+6281-803-700274 +6285-339-331991 supardani@guidelombok.com Booking Now
Areguling Tigor

Areguling Pantai Yang Indah Di Lombok

Istirahat sejenak sebelum melanjutkan ke Ujung tebing itu

Beberapa tahun yang lalu saat saya berkeinginan untuk menyusuri pantai yang berada di pulau Lombok bagian selatan terutama tujuan saya ingin mencari tahu objek-objek pantai yang ada antara Pantai Kuta dan pantai Selong Belanak, yang sudah terdaftar dalam benak saya, saya harus mengunjungi pantai Mawun yang sudah puluhan tahun saya sudah mendapatkan informasi tentang keindahannya lewat pamphlet atau brosur pariwisata, jujur saja saat itu saya belum punya sepeda motor maklumlah saat itu kalau mau punya sepeda motor harus beli cash atau beli tanpa kredit, saat itu hampir semua masyarakat sulit untuk memiliki sepeda motor jika tidak di bantu oleh pembiayaan melalui kredit atau “finance”. OK, sepertinya ini curhatan saya pingin punya motor saat itu.

Mau foto sembarangan di mana saja bisa bagus

Setelah saya bisa punya sepeda motor seperti orang pada umum nya, dengan cara kredit sepertinya rasa penasaran saya akan terjawab, semua jalur-jalur yang baru dibuka saya telusuri tidak terkecuali jalur yang dari arah pantai Kuta menuju pantai Selong Belanak, pertama kalinya saat itu saya gagal karena ada perbaikan ruas jalan dari arah pantai Kuta menuju pantai Selong Belanak, saya melihat ada beberapa alat berat (Exavator) di atas bukit sedang mengeruk tanah, saya pun tidak bisa melintas karena badan jalan terdiri dari tanah berdebu dan ada beberapa tumpukan tanah galian yang belum diratakan dan akhirnya saya pun kembali berbelok ke arah pantai Kuta karena sepupu saya yang saya bonceng enggan juga mau melanjutkan perjalan karena kondisi medan yang tidak mendukung, meskipun motor yang kami gunakan berkekuatan Cc besar dengan tipe P220 seingat saya itu pada tahun 2012.

Perjalanan kami selalu mengasikkan hingga jarak kami lupakan

Setahun kemudian saya mencoba lagi untuk melintasi jalur yang saya maksudkan, tapi kali ini saya masuk melalui jalur desa Penujak persis setelah pasar Penujak kira-kira 100 meter ada jembatan dengan model kerangka baja Australia, ada jalur ke arah kanan juga ada petunjuk jalan milik departemen Perhubungan dengan anak panah bertuliskan “Selong Belanak” karena petunjuk ini terlalu sering saya lihat saat pergi guiding menghantar wisatawan ke arah pantai Kuta. Jalur ini dulunya jalur utama menuju pantai Kuta sebelum ada akses jalan pendukung menuju arah bandara Internasional Lombok, saya katakan untuk orang yang baru-baru ini mengunjungi pantai Kuta kemungkinan jalur ini akan asing baginya.

Sisi keindahan yang tersembunyi dari lorong tebing berbatuan

Dari desa Penujak masuk ke arah pantai Selong Belanak waktu itu masih didominasi oleh pemandangan tanaman Jagung atau tanaman tembakau,  kondisi jalan beraspal bagus tapi bergelombang karena di bawah badan jalan terdapat tanah liat hingga terjadi pergeseran struktur tanah, sayapun gak berani ngebut karena motor yang saya kendarai melompat-lompat, tapi tidak semua ruas jalan seperti itu hanya ada beberapa km saja kira-kira 2 km, kondisi jalan pun turun naik tapi lebih cendrung banyak naiknya karea kita akan menuju bukit yang nampak di daratan pulau Lombok bagian selatan jika cuaca cerah. Di sepanjang jalan tidak ada nampak rumah makan apalagi restoran, tidak seperti 2 hari yang lalu tanggal 15 Oktober 2017 kami dengan team explore sempat mampir di Bakso Rudal dan di sebelahnya ada rumah makan sederhana dengan menu agak moderen.

Kalau item lebih kelihatan lakinya, Stop editing foto !!!

Sudah ada sediki perubahan di jalur ini seiring waktu sesuai : Tuntutan, Kebutuhan dan Prospek akan mempengaruhi gerak perekonomian setempat, rumah-rumah pun sudah banyak nampak dengan konstruksi dinding batubata, kios-kios kecil, bengkel motor pun sudah ada di beberapa tempat bisa kita lihat di pinggir jalan. Kembali ke cerita awal hingga saya sampai mendekati pantai Selong Belanak hingga di pertigaan jalan jika ke arah kanan akan menuju pantai Selong Belanak dan jika berbelok ke arah kiri akan menuju ke arah beberapa pantai yang menjadi destinasi wisata, diantaranya : pantai Mawi, pantai Semeti, pantai Mawun, pantai Areguling dan hingga ke pantai Kuta. Waktu itu saya hanya taunya ingin menuju pantai Mawun dan waktu itu saya sempat mengunjunginya.

Rasanya enggan untuk melanjutkan perjalanan maunya fotoan terus

Setelah beberapa kali saya melintas di ruas jalan ini, waktu itu nampak ada jalur ke atas bukit yang baru di buka tapi saat itu saya tidak berminat untuk mengunjunginya karena masih berbentuk jalan tanah dengan kondisi basah, karena saat itu baru habis gerimis dan nampak terlihat licin dan ada beberapa bongkahan tanah belum dibersihkan, setelah bebrapa kali melintas lagi ada petunjuk arah bertuliskan Areguling dengan tanda panah tapi belum diaspal, dalam pikiran saya suatu saat saya harus explore ke arah sana karena saat itu saya bersama wisatawan dan saya jadi guide nya, hingga lokasi ini pertama kali saya lihat di posting di facebook, yang memposting tidak berteman dengan saya tapi salah satu teman saya ditag dan muncul di beranda salah satu teman ku tapi saya sudah lupa nama pertemanan saya yang ditag karena saya fokus dengan memperhatikan gambar gambarnya.

Saking senangnya salah satu My Team katanya dia melihat bidadari melambaikan tangan di atas tebing

Hingga pada hari Minggu 15 Oktober 2017 saya mengajak teman-teman NGELAMANG TRIP untuk datang ke lokasi ini, sebelumnya saya sudah searching di google map dan mendapatkan dua jalur alternatif yaitu via jalur Penujak atau via jalur Tanak Awu depan bandara Internasional Lombok, untuk rute terdekat ditunjukkan dengan jalur Tanak Awu melalui perkampungan sama sepertihalnya dengan jalur Penujak tapi yang pasti pemandangannya beda, saya lebih memilih jalur dua-duanya biar ada pengetahuan juga buat My Team, jalur pertama kami masuk melalui jalur Penujak dengan kata lain jalur utama menuju pantai Selong Belanak hingga sampai di pantai Areguling kamipun sama-sama baru pertama masuk ke wilayah ini, dari jalur utama naik ke atas dengan kondisi jalan aspal yang cukup bagus yang dulunya cuma jalan tanah sempit, setelah sampai di atas ada juga beberapa penduduk bermukim di atas, hingga aspal terpotong di perkampungan tidak sampai di pinggir pantai dan menyusuri jalur tanah.

Kata salah satu My Team, enggan untuk beranjak pulang sayang waktu tidak bisa diputar seperti Jam alarm

Setelah masuk di kawasan pantai Areguling saya agak sedikit bingung mau saya bawa ke arah mana dulu My Team, ke arah kiri atau ke arah kanan naik ke bukit dimana ada nampak aktifitas terjun paralayang, tapi saya pilih ke kiri saja sesuai insting untuk menuju batu tebing yang diposting di facebook dulu itu, kalau lurus ke pantai ada terlihat tempat parkir mobil dan motor juga ada nampak Musholla sedang di bangun, kalau mau masuk cuma sebentar aja lumayan 1 motor bisa bayar parkir 5000 x 3 motor yah mendingan belok kiri saja hingga di perkampungan nelayan kami berhenti sejenak untuk mengambil gambar saja, kebetulan yang nampak ada gili atau pulau yang cukup besar dengan kontur berbukit, kata orang itu disebut gili Nusa dan tidak terlalu jauh dari bibir pantai, kira-kira 50 meter.

Sambil merenungi nasib menjadi seorang jomblo, di lokasi ini sangat tersasa pedihnya

Kami pun mengambil foto ke 2 arah kiri dan kanan, objeknya sama-sama pemandangan tebing dan setelah beberapa kali cekrek-cekrek begitu saya lihat bawah ke arah pijakan kaki salah satu teman saya sedang menambang pasir, katanya buat untuk ditaruh di dasar aquarium katanya sambil memasukkan butiran pasir ke dalam botol air minum kemasan 1500 ml, pasirnya cukup unik seperti di Mandalika Resort atau di beberapa pantai lainnya seperti di pantai Tanjung Aan, pantai Seger, pantai Semeti, pantai Mawi dan lain-lainnya karena di pulau Lombok sangat banyak tempat yang memili bentuk pasir seperti itu, bentuknya seperti bundaran merica juga ada yang hampir sama dengan butiran merica (bervariasi) kemudian setelah minum-minum air kemasan kamipun sudah terasa segar kembali dan kita lanjutkan menuju tebing yang kita maksudkan, saat itu nampak ada 3 orang cewek-cewek berkendara sepeda motor menuju ke arah yang akan kita tuju, kita sama-sama beriringan tapi mereka tidak menyusuri pantai hanya cuma mengambil gambar beberapa menit kemudian kembali, kamipun sudah gak sabaran ingin meraup kamera hand phone sebelum parkir di bawah pohon, kami pun tidak menyangka ternyata pohon ini sangat bagus untuk objek foto dan kami pun langsung beraksi.

Mendung tak berarti Hujan, alhamdulillah sampai di rumah gak ketemu hujan

Setelah selesai dari berteduh kamipun harus segera berangkat explore menuju pesisir pantai dan untuk keamanan sepeda motor salah satu teman harus siap berkorban menunggu di lokasi tempat kami memarkir motor biar My Team tenang, sepertinya kita sulit untuk berjalan cepat menyusuri pantai ini, eeeeiiittt…!!! sebentar dulu ini disebabkan karena terlalu banyak objek yang bagus-bagus buat berfoto jadi sambil jalan sambil fotoan terus dan sampai akhirnya ada kita jumpai gubuk nelayan persis berhadapan dengan gili Nusa konon lokasi ini sedang ditawarkan dengan jumlah luas tanah beberapa hektar, yah lokasinya berbentuk bukit cadas sih dan di kejauhan di atas bukit nampak para penambang tradisional, cocok juga jika kita lihat warna batu-batu cadas di depan kita seperti warna besi karatan dan warna pasirnya di sini ada yang hitam legam dan ada pasir putih berpilah-pilah, sambil berhenti fotoan terus yah, cukup kami nikmati perjalanan ini.

My Team lihat di Facebook : Iwan Keongracun, Tigor Jeeva, Qirin Rin dan Supardani Dan

Hingga di tempat ke dua kalinya kami menemukan gubuk nelayan dengan jumlah sekitar 5 kepala keluarga, perjalanan kami lanjutkan hingga menjumpai batu cadas menjulang tinggi seperti yang anda lihat pada gambar sampul di atas, bentuknya sangat indah dengan warna keputihan, ini yang tidak pernah saya lihat sebelumnya, kamipun sangat betah berada di tempat ini tampaknya air sedang surut mungkin jika air pasang kemungkinan kaki kita akan basah sedengkul tapi sayang waktu sudah tidak memungkinkan untuk berlama-lama di tempat terakhir ini juga kami tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju lokasi selanjutnya dan akhirnya, mari pulang marilah pulang, bersama-sama dan akhirnya sekitar pukul 18:00 kami sampai di rumah masing-masing.